Viral Siswa Belum Mahir Literasi: Dikdasmen Hubungkan ke Efek Covid
Video yang menampilkan siswa yang menunjukkan kondisi belum mahir literasi, khususnya dalam kemampuan membaca dan memahami teks, telah menjadi viral dan memicu diskusi publik yang hangat. Menanggapi fenomena ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) secara resmi menghubungkan masalah ini dengan efek berkepanjangan dari pandemi Covid-19. Situasi belum mahir literasi ini menjadi indikator penting adanya learning loss yang signifikan.
Pandemi Covid-19 memaksa sistem pendidikan beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah mitigasi penyebaran virus. Meskipun inovatif, PJJ tidak sepenuhnya mampu menggantikan interaksi langsung antara guru dan siswa, terutama dalam pengembangan kemampuan dasar seperti literasi. Keterbatasan akses terhadap perangkat, koneksi internet yang tidak stabil, serta kurangnya pendampingan efektif dari orang tua di rumah, berkontribusi pada menurunnya kesempatan siswa untuk berlatih membaca dan memahami secara mendalam.
Akibatnya, banyak siswa, khususnya di jenjang sekolah dasar, mengalami ketertinggalan dalam penguasaan literasi. Kemampuan membaca bukan hanya sekadar mengenali huruf, tetapi juga memahami makna, menganalisis informasi, dan mengaitkannya dengan konteks yang lebih luas. Ketika seorang siswa belum mahir literasi, ini akan menjadi hambatan besar dalam semua mata pelajaran lain dan juga dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini adalah tantangan serius yang perlu direspons dengan strategi komprehensif.
Sebagai contoh, pada hari Selasa, 28 Mei 2024, pukul 14.00 WIB, Kepala Subdirektorat Kurikulum Dikdasmen, Bapak Dr. Dwi Prasetyo, dalam sebuah seminar daring mengenai pemulihan pembelajaran, menyampaikan bahwa data asesmen terbaru memang menunjukkan adanya penurunan capaian literasi pada sebagian siswa, yang mayoritas diidentifikasi sebagai efek langsung dari gangguan pembelajaran selama pandemi. Beliau menekankan pentingnya program remedial dan penguatan kemampuan dasar membaca.
Untuk mengatasi kondisi siswa yang belum mahir literasi ini, pemerintah melalui Dikdasmen telah menyiapkan berbagai program pemulihan pembelajaran. Ini termasuk penguatan program literasi di sekolah, penyediaan modul belajar yang lebih interaktif, serta pelatihan bagi guru untuk dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi yang tepat bagi siswa yang membutuhkan. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan literasi secara optimal.
